Senin, 01 Oktober 2012

Goa Pindul dan Borobudur



Tidak terasa tanggal keberangkatan yang tertera dari tiket ekonomi Progo jurusan Jakarta-Jogjakarta (35000), sudah memasuki hari H, dan itu artinya petualangan baru lagi akan segera dimulai. Berbekal informasi dari internet dan forum backpacker indonesia, kami berdua memulai perjalanan pada pukul 20:55 WIB dari stasiun senen untuk menuju Goa Pindul dan Borobudur.

Pukul 07:00 WIB kereta sudah berhenti di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta, setelah melewati berbagai stasiun dan sulitnya memejamkan mata di kereta. Tiba di Jogja langkah kaki di mulai dengan menelusuri pinggiran Jogja menuju Malioboro dengan jalan kaki, cukup dekat jarak antara Stasiun Lempuyangan dan Malioboro ini, jadi Backpackers tidak perlu naik becak atau naik ojek. Rutenya pun cukup mudah, setelah keluar dari stasiun Lempuyangan, ambil jalur kiri dan lurus aja kemudian setelah melewati pertigaan ambil kanan dan menelusuri gang, atau anda bisa tanya-tanya sama warga setempat. Untuk yang lapar dan ingin sarapan, ada sarapan gudeg murah disekitar jalan sebelum mencapai Malioboro, harganya murah cuma 7000.

Sampai di Malioboro, kami tidak menghabiskan waktu banyak untuk menuju Goa Pindul di Wonosari. Berbekal informasi dari tanya-tanya di seputaran Malioboro, kami mulai naik bus Patas 4 menuju pemberhentian yang akan menuju Wonosari yang dikenakan biaya Rp 3000, kemudian dilanjutkan naik mobil Wonosari Rp 8000 sampai desa Bejiharjo. Dari desa Bejiharjo semua orang sudah mengetahui tempat wisata Goa Pindul ini. Setelah sampai desa Bejiharjo perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik ojek atau naik angkot, perjalanan dari tempat berhenti ini menuju tempat wisata cukup jauh. Biaya naik ojek dikenakan Rp 35000 pulang pergi.

Pukul 10:00 WIB kami tiba di Goa pindul, setelah melewati registrasi pendaftaran senilai Rp 30000. kami memulai mengarungi Goa Pantai yang indah yang memiliki panjang sekitar 350 M dan lebar 6 M. Ada 3 fase dalam goa ini yaitu Zona Terang, Zona Remang-remang dan Zona Gelap. 

Keindahan Goa Pindul semakin terasa, ketika kaki mulai turun ke dalam air dan mulai mengarungi dengan Balon Ban dan baju pelampung yang sudah disediakan, lebih enaknya lagi kita juga akan dipandu oleh Guide yang senantiasa akan menceritakan setiap detail dari Goa ini. Memasuki Goa mata mulai tertuju ke langit-langit yang banyak ditempati oleh kelelewar yang bergelantungan.

Dalam Goa ini juga terdapat batu yang bisa berbunyi seperti Gong jika di Pukul. Tepat pada bagian tengah Goa terdapat cahaya yang masuk dari atas Goa yang berlubang, sehingga menjadikan suasana semakin indah dan dijadikan tempat untuk berfoto dan berenang oleh semua pengunjung.

Puas menelusuri Goa, kami mulai membersihkan diri dan mulai melanjutkan perjalanan kembali menuju Magelang. Dengan di anter ojek sampai perlintasan Mobil menuju Jogja, kami mulai naik mobil Wonosari-Jogja Rp 6000 dan dianter sampai terminal Jogja. Sampai terminal Jogja perjalanan dilanjutkan dengan bus Jurusan Magelang Rp. 8000. Sampai diterminal Magelang Perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan yang langsung menuju terminal Borobudur Rp 5000 dan bisa dilanjutkan jalan kaki dari terminal itu.

Sampai dikawasan Borobudur yang sudah menjelang malam, kami memutuskan mencari penginapan dan akhirnya berhasil mendapatkan harga yang murah mulai dari Rp 100 ribu dan sangat cocok untuk backpacker,namanya penginapanya adalah Lotus yang terletak persis di depan pintu masuk Borobudur. Jika kebetulan nanti anda menginap disini, jangan lupa mencoba soto resah yang sudah terkenal kelezatannya dengan harga Rp 7000. Kami yang sudah berencana ingin mengejar sunrise dari atap Borobudur, memutuskan untuk beristirahat agar bisa bangun pada pukul 04:00 pagi. 

Berisik bunyi Alarm membangunkan kami, setelah mandi dan shalat shubuh kami berlari mengejar waktu yang sudah menunjukkan pukul 04:30 WIB. Dengan langkah cepat kami tiba di Pos masuk, tetapi rasa kecewa muncul setelah melihat pintu masuk masih tutup dan tertulis buka pukul 06:00 WIB. Tidak puas dengan pengumuman itu, kami memutari semua pintu masuk dan berharap dapat keajaiban. Rasa senang sedikit muncul ketika tukang ojek memberitahukan bisa masuk dari pintu 7 melalui hotel manohara, tetapi tiket yang dikenakan seharga 250 ribu perorang dan itu cukup memberatkan kantong Backpacker. Akhirnya kami pun menunggu pintu masuk dibuka pada pukul 06:00 Wib karena waktu yang sudah semakin siang. Rasa kecewa tentu ada, tetapi lain waktu jika kesana lagi kami akan mencoba melalui penanjakan untuk melihat sunrise.

Ada keuntungan juga masuk Borobudur pagi-pagi sekali, karena cuaca yang masih segar dan tentu saja pengunjung yang masih sedikit dan memudahkan kami untuk memotret segala sudut dengan bebas. Tips untuk anda yang ingin beli Ole-ole di Borobudur, ada baiknya membeli setelah melewati tempat perbelanjaan atau pada bagian parkir, harganya beda jauh dari tempat perbelanjaan yang ada di dalam.

Puas foto-foto di Borobudur, pukul 12:00 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta dimulai dari terminal Borobudur menuju terminal Jombor (jogjakarta) Rp 6000. Sampai di Jombor dilanjutkan dengan Trans Jogja menuju Malioboro Rp 3000. Sampai di malioboro kami memutuskan makan pecel di depan beringharjo Rp 8000 dan membeli ole-ole.

Tepat pukul 17.00 WIB kereta sudah mengajak kami untuk kembali ke Jakarta. Pengalaman yang begitu luar biasa sepanjang perjalanan, mengajarkan banyak hal yang saya temui, salah satunya yang begitu menyesakkan dada, banyaknya penjual yang sudah tua, dan jalur wisata yang masih kurang perhatian yang serius dari Pemerintah. Jika semua birokrasi di Negeri ini terurus dengan baik dan jalur wisata dapat di akses dengan mudah, apa tidak mungkin wisatawan domestik atau luar akan semakin banyak. Marilah kesadaran kita mulai dari diri sendiri untuk terus memajukan tempat wisata di Negeri ini, dan tidak membuang sampah sembarangan. Salam Backpacker.

Senin, 27 Agustus 2012

Puncak Para Dewa



1 hari usai lebaran saya dan teman-teman memulai petualangan untuk mendaki gunung Semeru yang sudah direncanakan sebulan lalu. Gunung Semeru terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Semeru termasuk gunung berapi tertinggi di pulau jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) atau yang disebut juga “Puncak Para Dewa”.

Sebulan sebelum keberangkatan tiket kereta Api Ekonomi Matarmaja seharga Rp. 55.000,- dengan tujuan Jakarta - Malang sudah berhasil di dapatkan, kami memulainya dengan naik kereta dari Stasiun Senen Jakarta pada pukul 14.00 WIB. 2 jempol patut diacungin untuk PT KAI sekarang ini, semenjak sistem boarding pass dilakukan stasiun kereta terlihat lebih rapi dan tidak semrawut seperti dulu. Sebelum memasuki statsiun, petugas kereta dengan sigap mengecek satu persatu nama di tiket kereta yang harus sama dengan KTP pemiliknya, Ternyata perubahan PT KAI tidak sampai disitu, ketika penumpang sudah berada di dalam kereta, petuga dengan baik menunjukkan tempat duduk yang tertera dalam tiket, sehingga penumpang tidak harus bingung dan muter-muter mencarinya. Dari sitem boarding pass ini, PT KAI menyediakan tiket yang disamakan dengan jumlah bangku, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri.

Pukul 14:00 WIB, kereta mulai melaju dari stasiun Senen. Satu persatu stasiun dilewati, ketika saya lihat jam menunjukkan pukul 17:00 WIB kereta sudah berada di daerah brebes. Rasa lelah ngantuk yang menyerang memudahkan saya untuk tertidur pulas dan benar-benar merasakan kenyamanan kereta ekonomi ini.

Pukul 08:00 WIB setelah 16 Jam perjalanan dan melewati banyaknya stasiun dari mulai dari Solo Jebres, Semarang dan lainnya, Kereta akhirnya tiba di Malang. Perjalanan dilanjutkan dengan bertanya-tanya kendaraan yang bisa membawa kami menuju Pasar Tumpang sebelum naik ke Pos Pendaftaran pendakian. Dari Stasiun malang, kami mencarter mobil seharga 90 ribu menuju pasar Tumpang, rasa lapar dan letih tidak menghambat kami untuk istirahat sebentar, rasa itu semua terhapus oleh Semeru yang sudah terbayang di depan mata. 1 jam perjalanan dari stasiun malang, kami sampai di Pasar Tumpang. Negoisasi Jeep pun dilakukan, terjadi tawar menawar dan mencapai kesepakatan harga Rp. 450.000,-. di Pasar ini juga bisa menjadi tempat untuk kami membeli kebutuhan yang kurang.

Cariel dan barang-barang lainnya sudah berhasil di ikat di atas jeep, dan kami 10 orang ditambah 5 orang pendaki laiinya mulai berdesak-desakan di Mobil jeep yang akan membawa kami ke Pos Ranu Pani. Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, dengan perincian, biaya surat ijin sekitar Rp.7.000,- Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang Rp.2.000,-.

Kami yang berangkat 10 orang dari Jakarta, mulai melanjutkan perjalanan dengan mobil jip yang disewa hingga sampai di Pos Registrasi Ulang Ranupani. Jalur untuk mencapai Ranupani ini tidak mudah, jalan yang belum bagus dan sempit hanya untuk satu mobil serta debu yang sangat ngebul sangat menghambat perjalanan. Tapi pemandangan di jalur ini sungguh sangat indah, kami melihat kebun teh dan gunung semeru dari kejauhan.  Pukul 11:00 WIB kami tiba di Pos Ranu Pani. Selesai Registrasi, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengisi perut dengan makan nasi di warung sekitar pos. Cukup murah untuk ukuran makan menggunakan telor dadar, tempe dan sayur lodeh dan setumpuk nasi dihargai 8000 rupiah.
Perjalanan pertama dimulai pukul 14.00 WIB, perjalanan awal melewati gapura”selamat datang”, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar  5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi bunga Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu terjal dan Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus dan dari kejauhan kita bisa melihat luasnya hamparan awan dibawah kita. Dari tempat ini Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4 Km atau sekitar 3 Jam perjalanan. Rasa lelah dan kaki yang mulai berat untuk melangkah tidak menyurutkan tekad kami untuk melihat Puncak Mahameru bseok pagi, semangat kami semakin tumbuh ketika melihat Dana Ranu kumbolo tersenyum indah menyambut kedatangan kami.

Pukul 18.00 WIB kami sampai di Ranu Kumbolo, cuaca yang mulai dingin dengan suhu sekitar -5 derajat memaksa kami untuk cepat berbenah mendirikan tenda disekitar Ranu Kumbolo. Pasang pasak dalam kondisi dingin sangat menyulitkan, efek getaran tubuh dari rasa dingin yang memasuki membuat kerjaan memasang tenda ini menjadi semakin sulit, sementara langit sudah semakin gelap. Teman-teman yang tertinggal dibelakang punb elum terlihat kedatangannya, entah dimana mereka sekarang, sesekali kami meneriakkan namanya agar jangan sampai mereka melewati tenda yang sudah kami buat. Satu jam kami bertiga menunggu, hingga akhirnya terdengar suara teman-teman yang tertinggal dibelakang  memanggil-manggil nama kami. Cuaca semakin dingin, hembusan angin benar-benar telah menguliti daging kami, sehingga dinginnya masuk kedalam tubuh, kami yang sudah menggunakan baju 3 lapis dan jaket tidak bisa sepenuhnya mencegah dingin. Untuk mengurangi rasa dingin kami memutuskan menyalakan api unggun dan memasak nasi. Ranu Kumbolo ini merupakan salah satu tempat favorit para pendaki untuk mendirikan tenda, ditempat ini tersedia banyak air dari danau yang bersih dan memiliki pemandangan indah, terutama di pagi hari terlihat matahari terbit disela-sela bukit. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.Yang perlu diwaspadai cuaca yang sangat dingin pada malam hari, jika suatu saat Anda berkunjung kemari, bawa baju penghangat dan Sleeping bad karena malam hari di Ranu Kumbolo ini akan terasa panjang dengan dinginnya yang khas.

Pukul 10:00 WIB selesai sarapan dan packing, kami mulai berbenah untuk melanjutkan perjalanan, di Ranu Kumbolo ini kami menyiapkan banyak air karena informasi yang kami dapat pos selanjutnya hanya ada air di kalimati dan bisa ditempuh dalam perjalanan sekitar 5 Jam.

Meninggalkan Ranu Kumbolo kami mendaki bukit terjal yang diberi nama tanjakan cinta. Bukit terjal ini sungguh luar biasa, setiap pendaki pasti nafasnya terengah-engah dan beristirahat dalam 5 langkah. Melewati tanjakan cinta Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Setelah melewati bukit dan padang rumput kita akan masuk ke pos Cemoro Kandang, rimbuhan hutan cemara ini menjadi penolong dari panasnya terik matahari diketinggian 2400 Mdpl.



Pukul 16.00 WIB kami tiba di Kalimati dan mulai mendirikan tenda. Di Pos Kalimati ini sering juga dijadikan tempat peninggalan barang-barang untuk para pendaki yang ingin naik ke puncak, karena sangat menyulitkan Anda jika harus kepuncak membawa semua peralatan. Sebagian teman-teman mulai mendirikan tenda dan sebagian lagi mulai memasak dan mengambil air di mata air cimani yang berjarak 1 jam perjalanan. Saya yang bertugas memasak mulai menyiapkan beras dan lauk pauk sosis dan nugget untuk mengisi perut keroncongan dari Ranu Kumbolo. Usai makan, kami semua istirahat dan tidur untuk menyiapkan tenaga berangkat ke puncak pada pukul 00:00 WIB dini hari nanti. Suhu Dinginnya Kalimati tidak sedingin Ranu Kumbolo mungkin banyak pohon yang menghambat angin untuk masuk ke tenda kami.

Pukul 00:00 WIB dini hari, kami mulai melanjutkan perjalanan usai mengisi perut dan membawa sebagian kebutuhan untuk di puncak dan meninggalkan barang-barang lainnya disini. Untuk menuju Puncak kami harus melewati Arcopodo, untuk bisa kesana harus berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Dari kejauhan terlihat banyak senter diatas ujung perjalanan sana, karena jalur untuk menuju Puncak Mahameru ini mempunyai kemiringan sekitar 90 derajat dan hanya ada satu jalur, artinya jika kita berada diposisi atas dan menjatuhkan batu makan akan menimpa orang dibawahnya dan tentu saja itu sangat berbahaya sekali.

Satu langkah dua langkah saya break dengan mencari posisi batu yang agak keras, karena kalau salah menginjak batu nyawa menjadi taruhannya. Pasir yang gembur dan batu yang rapuh menyulitkan kami untuk melangkah, sekali injak kaki kita akan meresap kedalam pasir bless. Maka tidak heran jalur ini disebut jalur 21 ( dua langkah naik turun 1 langkah). Saya yang mulai lemas dan kaki terasa sakit berusaha untuk terus mencapai puncak dengan merangkak, satu langkah dua langkah berhenti. Rupanya yang saya lakukan juga di ikuti oleh beberapa pendaki laiinya, sementara diatas sana terlihat kilauan lampu senter yang memanjang menuju ke langit dan memetik bintang. Angin dingin dan pekatnya malam tidak menyurutkan kami untuk terus melangkah setapak dua tapak untuk menggapai puncaknya.

Pukul 06:00 WIB puncak Mahameru terlihat. Mata saya memandang ujung dari bukit terjal berpasir yang sudah saya lalui dari bawah. Semangat semakin menggebu dan langkah kaki semakin ringan untuk mempercepat langkah menggapai puncaknya. Sampai di puncak kami melihat keindahan kota malang  dan awan berada dibawah kaki kami, seperti berada di Negeri atas  Awan. Di Puncak ini juga terdapat tugu untuk mengenang Soe Hok Gie yang meninggal disini. Perlu diketahui Soe Hok Gie meninggal ditempat ini sekitar tahun 1969 dipangkuan sahabatnya.

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda dan yang tersial adalah yang berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu (Soe Hok Gie)”.

Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es.

Kadang aku pernah berfikir untuk apa capek-capek jalan kaki naik gunung untuk mencapai puncaknya, kemudian sampai puncaknya turun kembali. Tetapi seiring waktu dan banyaknya gunung yang pernah saya daki,  menyadarkan betapa pentingnya keindahan alam ini dan bersyukur betapa bahagianya saya menjadi salah satu orang yang pernah melihat keindahan tersembunyi ciptaan Allah dan rasa letih itu semua terbayar lunas ketika mencapai Puncaknya.

Semeru dengan segala keindahan dan sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, akan selalu menjadi daya tarik setiap pendaki gunung untuk bisa menaklukan gunung tertinggi di pulau jawa ini, dan kami adalah salah satu orang yang beruntung pernah menginjakkan kaki kesana dan merasakan keramah tamahan suku tengger dan orang malang. Terima kasih untuk semuanya, jika ada kesempatan kami akan datang kembali untuk mengulang petualangan ini.



Ku langkahkan kaki menuju Puncak Para Dewa
Ku lawan semua dingin dan dahaga
Hanya untuk mu Semeru tercinta
 
Di ujung Sana ku lihat kamu Puncak Mahameru
Menyambut ku dengan Senyum mengembang
Walau aku masih disini di Ranu Kumbolo
Semangat berperang melawan dingin

Ijinkan aku mendekap mu Semeru
Dan berteriak lantang dari puncak tertinggi mu
Ijinkan aku Semeru
untuk bersyukur mengadah ke Tuhan dari atas kepala mu


 (Semeru 21-25 Agustus 2012)