1
hari usai lebaran saya dan teman-teman memulai petualangan untuk mendaki gunung
Semeru yang sudah direncanakan sebulan lalu. Gunung Semeru terletak di Kabupaten
Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Semeru termasuk gunung berapi
tertinggi di pulau jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan
laut (mdpl) atau yang disebut juga “Puncak Para Dewa”.

Sebulan
sebelum keberangkatan tiket kereta Api Ekonomi Matarmaja seharga Rp. 55.000,-
dengan tujuan Jakarta - Malang sudah berhasil di dapatkan, kami memulainya
dengan naik kereta dari Stasiun Senen Jakarta pada pukul 14.00 WIB. 2 jempol
patut diacungin untuk PT KAI sekarang ini, semenjak sistem boarding pass
dilakukan stasiun kereta terlihat lebih rapi dan tidak semrawut seperti dulu. Sebelum
memasuki statsiun, petugas kereta dengan sigap mengecek satu persatu nama di
tiket kereta yang harus sama dengan KTP pemiliknya, Ternyata perubahan PT KAI
tidak sampai disitu, ketika penumpang sudah berada di dalam kereta, petuga
dengan baik menunjukkan tempat duduk yang tertera dalam tiket, sehingga
penumpang tidak harus bingung dan muter-muter mencarinya. Dari sitem boarding
pass ini, PT KAI menyediakan tiket yang disamakan dengan jumlah bangku,
sehingga tidak ada penumpang yang berdiri.
Pukul
14:00 WIB, kereta mulai melaju dari stasiun Senen. Satu persatu stasiun
dilewati, ketika saya lihat jam menunjukkan pukul 17:00 WIB kereta sudah berada
di daerah brebes. Rasa lelah ngantuk yang menyerang memudahkan saya untuk
tertidur pulas dan benar-benar merasakan kenyamanan kereta ekonomi ini.
Pukul
08:00 WIB setelah 16 Jam perjalanan dan melewati banyaknya stasiun dari mulai
dari Solo Jebres, Semarang dan lainnya, Kereta akhirnya tiba di Malang. Perjalanan
dilanjutkan dengan bertanya-tanya kendaraan yang bisa membawa kami menuju Pasar
Tumpang sebelum naik ke Pos Pendaftaran pendakian. Dari Stasiun malang, kami
mencarter mobil seharga 90 ribu menuju pasar Tumpang, rasa lapar dan letih
tidak menghambat kami untuk istirahat sebentar, rasa itu semua terhapus oleh
Semeru yang sudah terbayang di depan mata. 1 jam perjalanan dari stasiun malang,
kami sampai di Pasar Tumpang. Negoisasi Jeep pun dilakukan, terjadi tawar
menawar dan mencapai kesepakatan harga Rp. 450.000,-. di Pasar ini juga bisa
menjadi tempat untuk kami membeli kebutuhan yang kurang.
Cariel
dan barang-barang lainnya sudah berhasil di ikat di atas jeep, dan kami 10
orang ditambah 5 orang pendaki laiinya mulai berdesak-desakan di Mobil jeep
yang akan membawa kami ke Pos Ranu Pani. Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah
untuk memperoleh surat ijin, dengan perincian, biaya surat ijin sekitar
Rp.7.000,- Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang
Rp.2.000,-.
Kami
yang berangkat 10 orang dari Jakarta, mulai melanjutkan perjalanan dengan mobil
jip yang disewa hingga sampai di Pos Registrasi Ulang Ranupani. Jalur untuk
mencapai Ranupani ini tidak mudah, jalan yang belum bagus dan sempit hanya
untuk satu mobil serta debu yang sangat ngebul sangat menghambat perjalanan. Tapi
pemandangan di jalur ini sungguh sangat indah, kami melihat kebun teh dan
gunung semeru dari kejauhan. Pukul 11:00
WIB kami tiba di Pos Ranu Pani. Selesai Registrasi, saya dan teman-teman
memutuskan untuk mengisi perut dengan makan nasi di warung sekitar pos. Cukup
murah untuk ukuran makan menggunakan telor dadar, tempe dan sayur lodeh dan
setumpuk nasi dihargai 8000 rupiah.
Perjalanan pertama dimulai pukul 14.00 WIB, perjalanan awal
melewati gapura”selamat datang”, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan
mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak
ditumbuhi bunga Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu
terjal dan Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang
ditumbuhi hutan cemara dan pinus dan dari kejauhan kita bisa melihat luasnya
hamparan awan dibawah kita. Dari tempat ini Untuk menuju Ranu Kumbolo masih
harus menempuh jarak sekitar 4 Km atau sekitar 3 Jam perjalanan. Rasa lelah dan
kaki yang mulai berat untuk melangkah tidak menyurutkan tekad kami untuk
melihat Puncak Mahameru bseok pagi, semangat kami semakin tumbuh ketika melihat
Dana Ranu kumbolo tersenyum indah menyambut kedatangan kami.

Pukul 18.00 WIB kami sampai di Ranu Kumbolo, cuaca yang mulai
dingin dengan suhu sekitar -5 derajat memaksa kami untuk cepat berbenah
mendirikan tenda disekitar Ranu Kumbolo. Pasang pasak dalam kondisi dingin
sangat menyulitkan, efek getaran tubuh dari rasa dingin yang memasuki membuat
kerjaan memasang tenda ini menjadi semakin sulit, sementara langit sudah
semakin gelap. Teman-teman yang tertinggal dibelakang punb elum terlihat
kedatangannya, entah dimana mereka sekarang, sesekali kami meneriakkan namanya
agar jangan sampai mereka melewati tenda yang sudah kami buat. Satu jam kami
bertiga menunggu, hingga akhirnya terdengar suara teman-teman yang tertinggal
dibelakang memanggil-manggil nama kami. Cuaca
semakin dingin, hembusan angin benar-benar telah menguliti daging kami,
sehingga dinginnya masuk kedalam tubuh, kami yang sudah menggunakan baju 3
lapis dan jaket tidak bisa sepenuhnya mencegah dingin. Untuk mengurangi rasa
dingin kami memutuskan menyalakan api unggun dan memasak nasi. Ranu Kumbolo ini
merupakan salah satu tempat favorit para pendaki untuk mendirikan tenda,
ditempat ini tersedia banyak air dari danau yang bersih dan memiliki
pemandangan indah, terutama di pagi hari terlihat matahari terbit disela-sela
bukit. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.Yang perlu
diwaspadai cuaca yang sangat dingin pada malam hari, jika suatu saat Anda
berkunjung kemari, bawa baju penghangat dan Sleeping bad karena malam hari di
Ranu Kumbolo ini akan terasa panjang dengan dinginnya yang khas.
Pukul 10:00 WIB selesai sarapan dan packing, kami mulai berbenah
untuk melanjutkan perjalanan, di Ranu Kumbolo ini kami menyiapkan banyak air
karena informasi yang kami dapat pos selanjutnya hanya ada air di kalimati dan
bisa ditempuh dalam perjalanan sekitar 5 Jam.
Meninggalkan Ranu Kumbolo kami mendaki bukit terjal yang diberi
nama tanjakan cinta. Bukit terjal ini sungguh luar biasa, setiap pendaki pasti
nafasnya terengah-engah dan beristirahat dalam 5 langkah. Melewati tanjakan
cinta Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro
ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat
indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di
Eropa. Setelah melewati bukit dan padang rumput kita akan masuk ke pos Cemoro
Kandang, rimbuhan hutan cemara ini menjadi penolong dari panasnya terik
matahari diketinggian 2400 Mdpl.
Pukul 16.00 WIB kami tiba di Kalimati dan mulai mendirikan tenda.
Di Pos Kalimati ini sering juga dijadikan tempat peninggalan barang-barang
untuk para pendaki yang ingin naik ke puncak, karena sangat menyulitkan Anda
jika harus kepuncak membawa semua peralatan. Sebagian teman-teman mulai
mendirikan tenda dan sebagian lagi mulai memasak dan mengambil air di mata air
cimani yang berjarak 1 jam perjalanan. Saya yang bertugas memasak mulai
menyiapkan beras dan lauk pauk sosis dan nugget untuk mengisi perut keroncongan
dari Ranu Kumbolo. Usai makan, kami semua istirahat dan tidur untuk menyiapkan
tenaga berangkat ke puncak pada pukul 00:00 WIB dini hari nanti. Suhu Dinginnya
Kalimati tidak sedingin Ranu Kumbolo mungkin banyak pohon yang menghambat angin
untuk masuk ke tenda kami.

Pukul 00:00 WIB dini hari, kami mulai melanjutkan perjalanan usai
mengisi perut dan membawa sebagian kebutuhan untuk di puncak dan meninggalkan barang-barang
lainnya disini. Untuk menuju Puncak kami harus melewati Arcopodo, untuk bisa
kesana harus berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian
berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo
berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan
tanah yang mudah longsor dan berdebu. Sebaiknya menggunakan kacamata dan
penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian
2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya
akan melewati bukit pasir. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu
3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Dari kejauhan
terlihat banyak senter diatas ujung perjalanan sana, karena jalur untuk menuju
Puncak Mahameru ini mempunyai kemiringan sekitar 90 derajat dan hanya ada satu
jalur, artinya jika kita berada diposisi atas dan menjatuhkan batu makan akan
menimpa orang dibawahnya dan tentu saja itu sangat berbahaya sekali.
Satu langkah dua langkah saya break dengan mencari posisi batu
yang agak keras, karena kalau salah menginjak batu nyawa menjadi taruhannya. Pasir
yang gembur dan batu yang rapuh menyulitkan kami untuk melangkah, sekali injak
kaki kita akan meresap kedalam pasir bless. Maka tidak heran jalur ini disebut
jalur 21 ( dua langkah naik turun 1 langkah). Saya yang mulai lemas dan kaki
terasa sakit berusaha untuk terus mencapai puncak dengan merangkak, satu
langkah dua langkah berhenti. Rupanya yang saya lakukan juga di ikuti oleh
beberapa pendaki laiinya, sementara diatas sana terlihat kilauan lampu senter
yang memanjang menuju ke langit dan memetik bintang. Angin dingin dan pekatnya
malam tidak menyurutkan kami untuk terus melangkah setapak dua tapak untuk
menggapai puncaknya.
Pukul 06:00 WIB puncak Mahameru terlihat. Mata saya memandang
ujung dari bukit terjal berpasir yang sudah saya lalui dari bawah. Semangat semakin
menggebu dan langkah kaki semakin ringan untuk mempercepat langkah menggapai
puncaknya. Sampai di puncak kami melihat keindahan kota malang dan awan berada dibawah kaki kami, seperti
berada di Negeri atas Awan. Di Puncak
ini juga terdapat tugu untuk mengenang Soe Hok Gie yang meninggal disini. Perlu
diketahui Soe Hok Gie meninggal ditempat ini sekitar tahun 1969 dipangkuan
sahabatnya.
“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang
kedua dilahirkan tetapi mati muda dan yang tersial adalah yang berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke
tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu (Soe Hok Gie)”.
Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk
tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah
selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru
berkisar 4 - 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad
Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es.
Kadang aku pernah berfikir untuk apa capek-capek jalan kaki naik
gunung untuk mencapai puncaknya, kemudian sampai puncaknya turun kembali. Tetapi
seiring waktu dan banyaknya gunung yang pernah saya daki, menyadarkan betapa pentingnya keindahan alam
ini dan bersyukur betapa bahagianya saya menjadi salah satu orang yang pernah
melihat keindahan tersembunyi ciptaan Allah dan rasa letih itu semua terbayar
lunas ketika mencapai Puncaknya.
Semeru dengan segala keindahan dan sebagai gunung tertinggi di
Pulau Jawa, akan selalu menjadi daya tarik setiap pendaki gunung untuk bisa
menaklukan gunung tertinggi di pulau jawa ini, dan kami adalah salah satu orang
yang beruntung pernah menginjakkan kaki kesana dan merasakan keramah tamahan
suku tengger dan orang malang. Terima kasih untuk semuanya, jika ada kesempatan
kami akan datang kembali untuk mengulang petualangan ini.
Ku langkahkan kaki menuju Puncak Para Dewa
Ku lawan semua dingin dan dahaga
Hanya untuk mu Semeru tercinta
Di ujung Sana ku lihat kamu Puncak Mahameru
Menyambut ku dengan Senyum mengembang
Walau aku masih disini di Ranu Kumbolo
Semangat berperang melawan dingin
Ijinkan aku mendekap mu Semeru
Dan berteriak lantang dari puncak tertinggi mu
Ijinkan aku Semeru
untuk bersyukur mengadah ke Tuhan dari atas kepala mu
(Semeru 21-25 Agustus 2012)